Selasa, 22 Maret 2011

HATI MUTIARA MERAH JINGGA

Semburat langit merah jingga memasung pikiran dan memaksaku untuk melawan waktu yang berputar. Rasanya Aku terhempas ke masa tiga tahun yang lalu, dimana aku masih bisa melihat Gadis November itu tersenyum dalam balutan kerudung hitam yang membuatnya tampak sangat anggun. Ingatan itu tak akan pernah terhapus dalam hidup ku. Hariku dimana aku ingin selalu berada didekatnya, hariku dimana aku berjanji untuk selalu menemaninya. Namun bukan aku yang menentukan semua. Tuhan telah memutuskan kepergiannya lebih awal dari yang kami pikirkan. Pagi itu dibawah naungan awan hitam, pandanganku tertuju pada seorang wanita berkerudung hitam yang tak mau beranjak dari tempatnya berpijak. Entah apa yang dipikirkan wanita itu, hingga hembusan angin pagi yang begitu dingin dan kelopak hujan yang mulai merekah, tak menyadarkan lamunannya. Aku mencoba mendekatinya untuk sekedar menawarkan payung atau jas hujan atau apapun yang bisa melindungi dirinya dari rintik air hujan. Semakin dekat kurasakan hatiku semakin berdebar takut kalau-kalau dia tak menghiraukan kedatanganku atau bisa saja dia memburuku dengan amarahnya karena aku telah mengganggu ketenangannya. Langkahku terhenti… tepat dihadapannya dan aku merasakan degup jantung yang semakin kuat. Aku terdiam, rasanya sulit untuk berbicara walaupun hanya mengucapkan kata perkenalan. Pandanganku tak lepas dari sorot matanya yang begitu dalam, seakan-akan ada banyak kesedihan yang disembunyikannya. Sekaan telapak tangan di kedua pipi dan pelupuk matanya semakin membuatku yakin bahwa air yang menetes dari pipinya bukan hanya air hujan, tetapi juga air matanya. Sesaat kemudian kebisuanku sirna ketika dia mulai tersenyum dan berbicara padaku. “Maaf, anda siapa? Kenapa dari tadi anda menatap saya dengan pandangan yang aneh seperti itu?” tanya wanita itu dengan suara yang lembut. Sesekali terdengar suara giginya yang beradu. Tanpa harus bertanya aku bisa merasakan dingin yang menyerangnya. Cepat-cepat ku keluarkan jaket kulit dari ransel ku, lalu kuberikan padanya. “Ini pakailah! Rabb mu tidak akan suka melihat seorang hamba yang menyiksa dirinya sendiri.” Dengan ragu-ragu, dia mulai mengulurkan tangannya, mengambil jaket itu dan mengenakannya. Kuberikan juga sebuah payung padanya Lalu kujawab pertanyaannya, “Nama ku Amar Ma’arif. Maaf atas ketidaksopanan ku tadi memandang wajah anda. Kalau boleh tau, siapa nama ukhti? Mengapa ukhti tidak berteduh dalam hujan yang selebat ini?” Aku mencoba menjadi teman untuknya, karena aku tahu disaat seperti ini dia butuh teman untuk membagi beban kesedihannya. Tapi apa yang terjadi selanjutnya, tak seperti apa yang aku pikirkan. Dia mengembalikan jaket dan payung ku lalu pergi dari hadapanku sambil berkata, “Tanyalah pada putera pelangi siapa aku, tunggulah sampai hujan reda, dia akan datang menghampirimu. Aku akan kembali kesini saat awan hitam menutupi langit merah jingga di bulan November.” Aku tak mengerti apa yang dia katakan, putera pelangi, awan hitam, langit merah jingga dibulan November, apa hubungan dia dengan ini semua? Dia menganggap dirinya seperti sebuah teka-teki yang harus dipikirkan untuk bisa mendapatkan jawabannya. Tapi aku terlalu sibuk untuk melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat seperti itu. Aku adalah seorang mahasiswa yang pagi harinya harus kuliah, sore harinya harus mengajar, dan malam harinya ku habiskan untuk belajar dan mengerjakan Qiyamullail. Hampir setiap hari aku tidak memiliki waktu luang kecuali hari sabtu, kegiatan rutin mingguan ku hanya tarbiyah bersama sahabat-sahabatku satu kampus. Sambil menunggu hujan reda, ku ambil sebuah buku harian dari dalam ransel, lalu ku tulis kejadian yang baru saja menimpa ku. Masih bisa ku ingat wajah wanita itu, cantik, anggun, dan tatapan kedua matanya mampu menyihir ku. ‘Astagfirullah hal adzim, apa yang aku pikirkan? Apakah aku sudah melakukan zina hati? Ya Rabb, ampunilah hamba Mu ini. Sungguh aku hanya mengagumi ciptaan Mu. Jangan kau jadikan sketsa wajahnya dipikiranku sebagai penggoyah imanku, tapi jadikanlah sebagai penguat imanku.’ kata-kata itu terlontar dari dalam hatiku, ada rasa takut yang menghampiriku. Tapi segera ku musnahkan rasa itu dengan mengucapkan kalimat-kalimat dzikir. Sudah hampir satu jam, aku menunggu hujan yang tak juga reda. Lalu kuputuskan untuk melanjutkan perjalananku menuju masjid tempat aku biasa melaksanakan tarbiyah. Aku berjalan lebih cepat, disana mereka pasti sudah menunggu kedatanganku. “Assalamu’alaikum. Akh Fahri, maaf saya datang terlambat.” “Wa’alaikumusalam warahmatullahi.” Sambutan salamnya begitu hangat, sehangat cahaya yang terpancar dari wajahnya. Ku lihat di sekelilingku tak ada seorang pun yang aku kenal selain Akh Fahri. Dia adalah Murobbi kami. Dia yang mengajariku lebih banyak tentang Dien, yang selalu membangunkan aku di sepertiga malam, dan mengirimiku sms tausyiah jihad dikala semangatku sedang kendur. “Dimana Rahmat, Hanif dan yang lainnya akh?” tanyaku sambil melepas ransel yang kubawa. “Ane juga ga tahu Mar, mungkin hujan lebat ini menghambat perjalanan mereka. Sambil menunggu mereka, lebih baik kita mulai saja kegiatan tarbiyah hari ini.” Pagi ini Akh Fahri mengajakku berbincang tentang bagaimana bersikap terhadap kaum wanita menurut tuntunan Islam. “Akh Amar, sesungguhnya wanita adalah kaum yang lembut, maka bersikap lembutlah kepada mereka. Bahkan ada hadist yang menyebutkan : ‘Perlakukanlah kaum wanita itu dengan baik, sebab mereka adalah yang membantu kalian.’ Baginda Rasulullah saw sendiri merupakan contoh suri tauladan yang paling baik terhadap isteri-isterinya dan juga keluarganya. Maka ikutilah jejaknya, niscaya Allah akan jadikan diantara kamu rasa kasih dan sayang.” Aku memperhatikan setiap ucapan Akh Fahri, tapi pikiranku entah kemana, mungkin masih tertinggal di salah satu sudut ruang tempat ku berteduh. “Akh Amar, apa yang antum pikirkan? Dari tadi ana perhatikan tatapan mata antum kosong.” Aku terkejut…rupanya Akh Fahri memperhatikan ku sejak tadi, apa yang harus aku katakan? kalau aku katakan bahwa aku sedang memikirkan seorang wanita. Apa itu pantas? karena Akh Fahri adalah orang yang aku hormati. Selain karena dia lebih tua, dia juga seorang ahli hadist dan penghafal Quran. “Emh….tidak akh, aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya merindukan keluarga ku.” ‘Ya Allah, ampunilah aku. Karena aku sudah berbohong pada hamba Mu yang soleh.’ Kata-kata itu sempat terbesit dalam hatiku. Baru pertama kali aku berbohong pada Akh Fahri. Sampai kegiatan tarbiyah berakhir, tak ada satu orang pun yang datang. Aku berpamitan untuk kembali ke tempat kost, sementara Akh Fahri tetap berada di masjid untuk berdialog dengan Ustadz Bahri. Hujan sudah reda, tetapi mendung pagi itu masih menyelimuti langit. Ku urungkan niat ku untuk kembali ke kost. Aku pergi ke sebuah telaga tempat dimana aku biasa menyendiri. Kubiarkan pikiranku terbang menerawang di bumi yang luas, hingga sebuah cahaya kecil mengalihkan perhatianku ke arahnya. Cahaya itu tepat berada diatas telaga, diantara hamparan awan mendung yang menutupinya. Aku menamakannya sebagai bintang redup. Lalu kuambil bolpoint dan buku harianku. Kubiarkan bolpoint itu menari diatas lembaran kertas buku harianku.
Terlihat bintang redup di pagi hari
Ingin rasanya aku mengucap harap di laut senyap
Tapi kenapa terselip kepedihan di dalamnya?
Seakan aku jaring laba-laba yang terabaikan.
Lalu…kutulis saja bukti tertulis pada kertas bersajak
Agar semesta tahu isi duniaku
Tapi…apa mungkin bukti itu mengandung maksudku?
Karena saat itu ragu sedang menyelimuti sudut hatiku
Sehingga diriku pun diam karena nya.
Setelah itu aku melihat burung-burung mulai mengepakkan sayapnya
Tapi kenapa ia pergi dengan membawa pikiranku?
Bila langit pagi itu menerawang bersamamu
Apa mungkin nuraniku akan mencarimu?
Tapi bila kau tanya ketulusan hati padaku
Apa mungkin aku akan menjawabnya?
Saat ini aku benar-benar merasa tersihir olehnya. Tuhan telah menanamkan rasa kasih dan sayang di hatiku. Lalu bagaimana dengan hatinya? Awan hitam semakin tebal, rupanya ia tidak ingin digantikan oleh putra pelangi. Benar saja, sesaat kemudian awan itu kembali mencair, melunturkan tinta yang melekat dalam buku harianku. Aku bergegas meninggalkan telaga itu, berlari secepat mungkin menuju tempat kost ku. Nafasku terengah-engah, begitu sampai dihalaman rumah tempatku tinggal. Kamarku terletak di belakang, jauh dari bagian utama rumah. Kurasa pilihanku tepat karena aku tidak suka keramaian. Seringkali teman-teman kost ku menyebutku sebagai seorang petapa. Tapi aku tak peduli, ini cara hidupku. Yang terpenting buatku, aku tidak memutus tali silahturahmi dengan mereka. Di rumah ini, aku tinggal bersama mas Firman, Muamar, Fikri dan mas Agung. Kami semua satu angkatan, hanya saja mas Firman dan mas Agung setahun lebih tua dari kami. Aku sangat lelah, kulihat kamarku berantakan. Sudah hampir satu minggu ini aku tidak merapikannya. Setelah meneguk dua gelas air, aku membaringkan diri dikasur. Mataku tak kuat menahan kantuk yang menyerang. Ku ingat-ingat, semalam aku hanya tidur selama tiga jam. Pantas saja aku merasa lelah dan mengantuk. Tapi jam di meja belajarku sudah menunjukan pukul 11.45 , sebentar lagi Dzuhur. Pantang buatku tidur di saat-saat menjelang waktu shalat. Lalu kuputuskan untuk mengambil air wudhu dan membaca Qur’an agar mataku tidak mengantuk. Allahu Akbar….Allahu Akbar….,Tenang rasanya mendengar suara adzan dari masjid yang terletak dua rumah dari tempat kostku. Aku segera menuju masjid bersama keempat sahabatku untuk menunaikan salat dzuhur berjamaah. Sehabis itu, aku kembali ke kamar melaksanakan shalat sunah Rawatib, kemudian tidur dengan perasaan lega karena kewajibanku sudah kulaksanakan. Kring….ng…ng…ng, suara jam beker serasa mengganggu tidurku yang lelap. Dengan sedikit malas, ku raih jam beker tersebut. Ya ampun, aku terkejut begitu tahu saat ini sudah jam 18.00. Aku melompat dari tempat tidur, mengambil wudhlu dan segera melaksanakan shalat ashar munfarid. Aku menyesali kelalaianku. Orangtua ku selalu berpesan agar aku melaksanakan shalat tepat waktu, tapi sekarang aku mengecewakannya. Aku menangis sejadi-jadinya sambil memohon ampunan kepada Allah SWT atas kelalaianku. Buku harianku menjadi saksi atas semua dosa-dosa dan kelalaianku hari ini. Part : Hari-hariku di bulan Oktober kulalui dengan rutinitas biasa. Tak ada yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Lambat laun aku mulai melupakan wanita misterius itu. Mungkin karena kesibukanku mempersiapkan Ujian komprehensif kelulusan di bulan November nanti. Siang itu, sepulang dari kuliah, kusempatkan waktu untuk mengunjungi Akh Fahri. Kebetulan ada yang ingin aku tanyakan mengenai pembuatan karya tulis akhir semesterku. Aku mengambil tema Bunga Wesel dalam Hukum Islam. Begitu sampai di depan pintu pagar rumahnya, ku tekan bel yang mengeluarkan suara senandung nasyid. Aku agak heran, karena baru kali ini aku mengunjungi akh Fahri dan mendapatkan suara bel yang bersenandung nasyid. Tidak lama kemudian, Akh Fahri keluar dan segera kuucapkan salam. “Assalamualaikum” “Wa’alaikum salam Warahmatullahi wa Barakatuh” Akh fahri menjawab salamku sambil menunjukan senyumnya yang hangat dan ramah. “Tumben antum main kesini, Mar. Ada apa?” “Ah…Akh bisa saja, saya hanya ingin bersilaturahmi sekalian ada yang ingin saya tanyakan pada akh.” “Silahkan masuk dulu, kita berbicara di dalam saja.” “Terima kasih akh.” aku pun mengikutinya dari belakang dan dia mempersilahkan aku duduk. Rumahnya cukup tertata rapi, pada dinding-dindingnya terdapat hiasan kaligrafi yang sangat indah. “Tunggu sebentar ya” Akh Fahri meninggalkanku di ruangan itu. Cukup lama, aku berdiri memandangi setiap tulisan kaligrafi yang terpampang disetiap sudut dindingnya. Tak lama berselang, Akh Fahri kembali bersama seorang akhwat yang membawa dua gelas air jeruk diatas nampan. ” Amar, silahkan diminum.” ” Sukron, akhi.” aku memperhatikan akhwat itu meletakkan gelas yang dibawanya dengan hati-hati dengan wajah tertunduk. ” Oh ya…kenalkan ini satu-satunya puteri Akh, Farah namanya.” Aku benar-benar terkejut begitu melihat sekilas wajah wanita itu. Ternyata wanita misterius yang ku temui tiga bulan yang lalu itu adalah puteri dari Akh Fahri. Aku masih tak percaya, sampai akhirnya dia pergi meninggalkan aku dan Akh Fahri berdua. “Antum bilang tadi ada yang ingin ditanyakan, tentang apa? Insya Allah Akh akan jawab kalau Akh mengusai ilmunya.” “Begini Akh, sebentar lagi ana akan menyelesaikan kuliah. Ana sedang membuat karya tulis bertema Bunga Wesel Dalam Hukum Islam. Apakah akh bisa membantu menjelaskan Bagaimana hukum bunga wesel dalam ajaran Islam?” Aku bertanya pada Murobbi ku, tapi saat itu aku tidak mendengarkan penjelasan darinya karena lagi-lagi wanita itu yang ada dipikiranku. Aku tak ingin berlama-lama di rumah Akh Fahri. Begitu beliau selesai menjawab pertanyaanku, aku berpamitan untuk segera pulang. Akh Fahri memanggil puteri kesayangannya dan mereka mengantarku sampai ke depan rumahnya. Kulihat kembali wajahnya sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya. Ada sesuatu yang terjadi pada hatiku. Ya…rasa sayang itu kembali melapukkan hatiku. Saat itu aku berpikir…..
Jika saja hatiku terbuat dari batu
Mungkin kau takkan pernah ada dihati
Tapi percuma saja…..
Karena dirimu bagai rintik air hujan
Yang setiap kali turun ke bumi
Sedikit demi sedikit melapukkan batu itu
………….to be continued……………
Mencoba tuk berkarya lewat kata...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar